Al-Qur`an

Monday, December 11, 2006

Bertemu, Berbagi, Terbuka.

Itulah bagi saya yang mendefinisikan seorang itu teman dan keluarga.

Saya benar-benar serius untuk memisahkan mana yang bukan teman dan
keluarga dan mana yang iya, atau dalam kata lain yang teman dan keluarga asli, benar, dan nyata, dengan teman dan keluarga yang palsu, semu, dan bayangan.

Lebaran tahun ini adalah lebaran pertama dimana saya tidak pergi muter
ke keluarga besar. Saya lebih memilih di rumah, nonton tv, baca,
makan, tidur. Sama sekali tidak berhubungan dengan yang namanya
'keluarga' ataupun 'teman' melalui media apapun. Dan saya merasa keputusan saya untuk tetap tinggal adalah benar, dan saya merasa lega.

Beberapa hari setelah Lebaran, saya pun menghapus semua 'friends' di
Friendster saya, dan mengkosongkan profile saya (karena Friendster
tidak bisa di delete). Semua nomer telepon telah saya hapus dalam beberapa hari ini, dan semua e-mail barusan telah saya hapus. Tentu saja yang saya hapus adalah kenalan-kenalan yang berkedok keluarga dan teman. Iya bisa terjadi. Hanya karena berasal dari satu kakek nenek kita kenal dengan sepupu tapi toh tidak berteman dengan mereka. Hanya karena sekelas bisa kita kenal dengan orang tapi bukan berarti teman. Inilah yang saya hapus.

Saya baru saja menanyakan kepada adik saya, apakah ia punya teman. Dia
katakan iya. Saya minta beri contoh teman yang paling dekat.

'Budi (nama disamarkan'
=== Kamu dan Budi saling terbuka nggak? Kalo ada masalah?
'Ya.'
=== Terakhir ketemu kapan?
'Ya paling di sekolah atau di warnet kalo liburan gini'
=== Ya itu mah namanya bukan temen, baru 1/3 temen.
Temen itu Bertemu, Berbagi, dan Terbuka.

Keluarga juga seperti itu. Bahkan orang tua dan saudara sekandung
sendiri. Makanya sekarang saya fokus kepada delapan orang anggota
keluarga saya dan satu orang teman terdekat saya. Agar kami saling
bertemu, tapi bukan hanya bertemu, tapi juga berbagi. Bukan hanya
berbagi masalah/uang/ kehidupan tapi juga terbuka.

Ketiga elemen pokok ini merupakan pengejawantahan/ pengaplikasian dari tiga elemen hidup yaitu:

Bersama = Keperdulian, meluangkan waktu, meluangkan energi
Berbagi = Keperdulian, pengorbanan, bersikap memberi
Terbuka = Kepercayaan, keingintahuan, kemauan menolong

Dengan kata lain: Cinta.

Dan tiga sifat ini harus ada dalam setiap hubungan yang nyata.

Cinta Tuhan: Bersama (dalam shalat, dalam ibadah, dalam hidup)
Berbagi (zakat, haji, sedekah)
Terbuka (memohon ampun, meminta tolong, berdoa)

Cinta Negara: Bersama (menjaga kebersihan publik)
Berbagi (keadilan dan kemakmuran sosial)
Terbuka (transparansi)

Cinta Orangtua, Keluarga, Teman

Cinta Diri Sendiri:

introspeksi, mengevaluasi, dan mengimprovisasi kemampuan diri.
Terbuka dengan perasaan dan pikiran.
Tidak berlebihan dan tidak kekurangan.

Ketiga elemen ini bagi saya adalah elemen terpenting untuk bisa
mengatakan siapapun sebagai teman/keluarga. Bahkan bagi saya keluarga
adalah teman, dan teman adalah keluarga. Semua keluarga saya haruslah
menjadi teman saya, kalau tidak ya tidak dianggap keluarga. Dan semua
teman saya haruslah menjadi keluarga saya juga.

Saya suka merasa aneh dengan hubungan sosial kita semua. Ada 'teman
lama' atau 'keluarga' yang kebetulan ketemu di bus, atau di suatu
tempat lalu ngobrol 'apa kabar lo' dsb setelah 5, atau 10 tahun nggak
jumpa. Pertanyaan saya adalah kenapa bisa anda tidak saling jumpa/
berkomunikasi selama bertahun-tahun itu? Menurut akal dan nurani saya:
Bila anda berdua memang teman/keluarga kenapa tidak 'keep in touch'?
Biasanya kita akan minta nomor telepon, tapi berdasar pengalaman
pribadi, kita nggak nelpon mereka, mereka nggak nelpon kita. Nah, kalo
memang begitu, lain kali sudahlah nggak usah basa-basi lagi.

Banyak orang mengira semakin banyak orang yang mereka kenal semakin
baik networking mereka, saya kira mereka salah. Networking itu bukan
ditentukan dari kuantitas pertemanan anda, tapi dari kualitas. Sepuluh
orang hubungan berkualitas lebih baik dari sejuta hubungan semu.

Maka dari itu telah sampailah kita pada saat perpisahan.

Terimakasih kepada semua yang telah mengirim dan mereply posting yang
bermanfaat. You're very kind.

Untuk selanjutnya saya berharap kita semua bisa menjalin hubungan
sosial yang benar-benar nyata, yang saling tahu dan perduli mengenai
keadaan masing-masing seperti kita tahu dan perduli diri kita sendiri.

Ubahlah hubungan semu anda: buat jadi nyata atau buang.

Saya memutuskan untuk membuang semua hubungan semu saya yang ada
karena: semata-mata kebetulan pernah satu sekolah/kuliah padahal sama-
sama nggak tahu hari ultah, nggak tahu kegiatan, nggak pernah saling
kunjung rumah.

Dalam hidup saya yang singkat ini, saya ingin merasakan hubungan yang
kaya kualitas walau miskin kuantitas, daripada kaya kuantitas tapi
miskin kualitas, jangan sampai miskin kualitas dan kuantitas, bonus
kalo jadi kaya kualitas dan kuantitas.

Selamat tinggal kenalan-kenalan saudara-saudari se-Antimalas, tetaplah
Antimalas selamanta.

Antimalas: It's the Universal Lifestyle for Success,
Happiness, and Excellence.

Dari mailing antimalas..ini bukan tulisanku..
tapi tulisannya menggugah pikiranku..

1 comment:

loreley said...

Mudah-mudahan teman kamu lebih banyak daripada "teman" yang kamu punya. Kan repot kalau harus dihapus semuanya.