Al-Qur`an

Friday, June 08, 2007

DIMENSI SPIRITUAL DALAM PSIKOTERAPI - (Kajian Logoterapi Victor E. Frankl)

Suatu Pengantar

"Manusia mampu bertahan hidup di gurun yang sangat tandus, jika
gurun tersebut menawarkan suatu tugas yang harus dipenuhi. Sebaliknya
ada orang yang mati bunuh diri minum racun di istana mewah karena tidak
tahu untuk apa dia hidup."


Paper yang ditulis oleh seorang
peneliti dari IAIN Sunan Ampel Surabaya, yang mengupas mengenai
logoterapi.

Selamat membaca..

Edith Noor

"Sebagian arti hidup adalah untuk mengalami senang dan susah. Hidup yang terus-menerus bahagia bukanlah hidup yang baik."

(George Loewenstein, Ekonom di Carnegie Mellon University)

************************************************************************

Potongan-potongan dari kajian ini yang menurut saya menarik saya copy-paste..jadi gak semuanya saya kutip..
Hidup setiap orang memiliki makna yang unik, setiap orang
memiliki peran unik yang harus dipenuhi atau diperankan, suatu peran
yang tak dapat digantikan oleh orang lain. Setiap orang lahir ke dunia
ini mewakili sesuatu yang baru, yang itu tidak ada sebelumnya. Sesuatu
yang original dan unik. Tugas setiap orang adalah untuk memahami bahwa
tidak pernah ada seorang pun serupa dirinya, karena jika memang pernah
ada seseorang yang serupa dengan dirinya, maka ia tidak diperlukan.
Setiap orang adalah sesuatu yang baru, dan harus memenuhi suatu tugas
dan panggilan mengapa ia diciptakan di dunia ini (Buber dalam Zainal
Abidin, 2002).

Pengembaraan dalam mencari eksistensi kita, dapat kita temukan ketika
kita berupaya memahami makna hidup kita sendiri. Saat kita menyadari
dalam hal apa kita adalah unik. Berbeda dari orang lain, tugas unik apa
yang telah kita penuhi, yakni suatu tugas yang hanya dapat dipenuhi oleh
seorang seperti /"aku"/, dan tidak ada seorang pun yang sama seperti
aku. Penemuan makna memberi kita suatu pemahaman mengenai takdir, semua
kegembiraan dan kesedihan tampak menjadi bagian yang sesuai dari
keseluruhan riwayat hidup kita. Ibarat kepingan-kepingan /"keramik"/
yang membentuk sebuah /"mozaik"/ perjalanan hidup kita. Setiap
kepingan-kepingan tersebut pasti bermanfaat, tidak ada yang sia-sia.
Setiap peristiwa adalah satu langkah yang mendekatkan kita untuk menjadi
manusia sepenuhnya, yang memenuhi suatu /"peran"/ yang memang /"hanya"/
untuk kita.

Menurut Jalaluddin Rakhmat (Pengantar dalam Danah Zohar & Ian Marshall,
2002), ada lima situasi ketika makna membersit ke luar dan mengubah
jalan hidup kita -menyusun kembali hidup kita yang porak poranda-, yaitu
*/pertama/*, makna kita temukan ketika kita menemukan diri kita (/self
discovery/), */kedua/*, makna muncul ketika kita menentukan pilihan,
hidup menjadi tanpa makna ketika kita terjebak dalam suatu keadaan,
ketika kita tidak dapat memilih, */ketiga/*, makna dapat kita temukan
ketika kita merasa istimewa, unik, dan tak tergantikan oleh orang lain,
*/keempat/*, makna membersit dalam tanggung jawab, */kelima/*, makna
mencuat dalam situasi transendensi, gaungan dari keempat hal di atas,
ketika mentransendensikan diri kita melihat seberkas diri kita yang
autentik, kita membuat pilihan, kita meras istimewa, kita menegaskan
tanggung jawab kita. Transendensi adalah pengalaman yang membawa kita ke
luar dunia fisik, ke luar dari pengalaman kita yang biasa, ke luar dari
suka dan duka kita, ke luar dari diri kita yang sekarang, ke konteks
yang lebih luas. Pengalaman transendensi adalah pengalaman spiritual.
Kita dihadapkan pada makna akhir /("the ultimate meaning"/) yang
menyadarkan kita akan /"aturan Agung"/ yang mengatur alam semesta. Kita
menjadi bagian penting dalam aturan ini. Apa yang kita lakukan me
ngikuti rancangan besar (/"grand design"/) yang ditampakkan kepada kita.
Inilah dimensi spiritual dari ajaran logoterapi Victor E. Frankl.

Keterangan lebih lanjut di-blognya muhkito

tambahan aja : Victor Frankl itu seorang dokter Yahudi yang di penjara oleh Jerman selama PD II. dia dipenjara di kamp konsentrasi Auschwitz, dan diminta untuk mengobati orang-orang yang menderita sakit selama penahanan itu. saat itulah dia menyaksikan bagaimana para tahanan mati didepan matanya, dan juga bagaimana para tahanan menjalani hidupnya dan bertahan hidup demi "sesuatu" yang menjadi makna hidupnya. makna hidup itulah, ternyata, yang membuat tahanan kamp konsentrasi mampu bertahan hidup dalam situasi yang teramat berat.

jadi intinya, ketika manusia mengalami suatu pengalaman tragis, ada sesuatu yg bernama "makna hidup" yg membuat manusia bertahan dlm situasi tsb. teorinya ini kemudian dikembangkan lagi olehnya, dan dipakai dalam psikoterapi dgn nama logoterapi alias terapi makna hidup.

Dari Fertob



No comments: