Al-Qur`an

Thursday, August 18, 2011

Lebih Dekat : -Keluarga yang Menolak Sekolah-

Hari ini saya menonton sebuah tayangan tentang 3 keluarga di Jerman, yang menolak untuk mengikuti sekolah secara umum. Pendidikan diambil alih oleh peran keluarga, ayah dan ibu dengan kurikulum tetap dan berikut tugas-tugasnya selayaknya sebuah sekolah. Dua keluarga merupakan keluarga yang religius, cerita keluarga pertama memiliki 7 orang anak, Ayah dan Ibu membagi peran sebagai pengajar. Ayah mengajarkan Matematika, Fisika dsb. Ibu mengajarkan Olahraga, Musik, dsb. Hasil yang didapat, anak pertama akhirnya dapat mengikuti sekolah kejuruan, dan dapat menyamai kemampuan teman-teman sebayanya untuk kemampuan akademik. Dalam pergaulan tetapi anak ini terlihat berbeda karena tidak pergi ke bioskop, disko, ataupun berdansa seperti teman-teman yang lainnya.Adapun ketika ditanya, ia menyatakan diajak untuk hal lain seperti pergi ke rumah temannya ia baru akan menyanggupinya. Keluarga ini memegang teguh nilai agama seperti memulai makan dengan berdo´a bersama-sama di meja makan.
Oleh negara, keluarga ini dianggap dapat memperoleh hukuman, karena telah menolak untuk sekolah, dan sang ayah sebagai kepala keluarga mulai memperjuangkan hak-haknya dengan mendatangi pengacara. Karena hasil yang didapat dari pendidikan Ayah dan Ibu ini dianggap baik.
Pihak negara yang berkepentingan menyatakan perlunya untuk sekolah karena merupakan lingkungan sosial kecil yang baik sebagai perwujudan warga negara...

Keluarga yang kedua dengan tiga orang anak juga menolak untuk sekolah. Keluarga ini menerapkan belajar dari kehidupan.Dua anaknya diajak mengenal alam dengan lebih dekat, seperti mengenali tanaman yang dapat dimakan dan tidak dapat dimakan. Dan sang Ibu membuat permainan sendiri untuk anak-anaknya. Sekolah dianggap bukan hanya untuk menghapal, tetapi juga untuk menanamkannya dalam diri. Dan hasil yang didapat di sekolah pun setelah beberapa tahun, kenyataan menunjukkan kadang tidak sampai menuju tingkat kelulusan.

Keluarga yang ketika dengan 8 orang anak. Merupakan keluarga yang religius dan memiliki hubungan dengan keluarga pertama yang telah disebutkan sebelumnya. Keluarga ini juga menolak untuk sekolah. Peran pengajar digantikan oleh Ibu, dimana mengajarkan Matematika, Bhs.Jerman dsb. Sang ayah menyatakan ketika pergi ke sekolah ia akan menolak ketika anak-anaknya nanti diajarkan dengan gambar-gambar pornografi mengenai seksualitas, yang saya coba hubungkan ini dengan pelajaran Biologi. Keluarga ini juga tidak pergi berenang yang menunjukkan keterbukaan atau di tempat umum. Sang anak ketika ditanya mengapa belum memiliki pacar, ia menyatakannya baru akan memilikinya ketika akan menikah. Dibandingkan dengan teman-temannya di sekolah yang sudah memiliki
anak, atau bertunangan.Keluarga ini juga menerapkan berdo`a bersama-sama sebelum makan.

Lalu opini yang saya tangkap dan menimbulkan pertanyaan kuat adalah ``Siapa yang berhak menentukan yang terbaik untuk anak-anak, negara atau orangtua? Mengapa harus ada hukuman terhadap keluarga yang menolak untuk sekolah?

Sisi yang menarik dari sebuah kehidupan keluarga, sisi lain arti dari sekolah, nilai-nilai kehidupan, religius dan tradisional yang masih dipelihara dan dipertahankan..

No comments: