Al-Qur`an

Thursday, June 26, 2014

Kapasitas


Otak kita memiliki kapasitas yang terbatas, yang kita ingat atau kita anggap benar hanyalah sebuah bias. Kita tergantung dari pemaparan yang ada di sekitar lingkungan kita, dibalik begitu banyaknya sumber daya dan berbagai potensial yang seharusnya kita ketahui. Dengan kapasitas yang terbatas ini, dibuatlah sebuah peluang pemaparan, untuk menampilkan sedikitnya sumber daya dengan kelebihan yang ada, yang akhirnya dengan pemaparan yang berulang-ulang kita pun mempercayainya, dan lama kelamaan menjadi bagian dari diri kita, yang mau tidak mau tanpa perlu kita untuk memikirkannya hal itu akan terkemukakan dengan sendirinya. Sebuah ingatan yang menjadi bagian dari diri kita, dan segala sesuatu yang diluar ingatan kita,dianggap tidak begitu penting dan berkualitas. Bahkan keitka klita sudah bertemu dengan sebuah sumber daya atau potensial tanpa nama yang sebenarnya memiliki penilaian secara kompetensi dan kualitas sama dengan sumber daya dan potensi dengan nama. Hal ini akan menjadi hanya sebuah kilasan belaka, yang tidak tersimpan dalam ingatan kita. Karena potensi dan sumber daya ini tanpa nama, tidak pernah ada yang sebelumnya memperkenalkannya kepada khalayak ramai, bagi kita sulit untuk mempercayainya. Walaupun kita pun sudah melakukan kontak langsung dan mengakui kelebihan dan kualitas yang ada. Tanpa pemaparan dan nama, akhirnya itu akan kembali menjadi terpendam, dan bahkan tidak menjadi bagian dari ingatan kita. Yang kita ingat dan akhirnya menjadi bagian dari diri kita adalah sebuah sumber daya dan potensi dengan nama yang telah terpaparkan selama bertahun-tahun, yang memiliki kualitas bahkan sama atau tidak lebih baik daripada sumber daya dan potensi tanpa nama.
Sebegitu pentingkah pemaparan itu, sehingga kita pun akhirnya kemudian mempercayainya, dengan didukung dengan bukti-bukti yang semakin memperkuatnya, baik ilmiah maupun secara kemasyarakatan. Sebegitu mudahkah otak kita mempercayai hanya pada apa yang dilihat, bukan berdasarkan pengalaman positif langsung dengan potensi dan sumber daya tersebut. Memang perlukah kita menamai sumber daya dan potensi tersebut, karena kapasitas otak kita yang terbatas, sebagai kemudahan familiaritas. Sehingga akhirnya mengkerucutkan kenyataan menjadi sebuah distorsi dan bias.   

No comments: